Daftar Blog Saya

Sabtu, 10 Maret 2012

Bersiap bersedih diam tanpa kata-kata (cerpen)

Bersiap bersedih diam tanpa kata-kata (cerpen)
Aku menunggu setengah jam sampai toko bunga itu 
buka. Tapi satu jam kemudian aku belum berhasil 
memilih. Tak ada yang mantap. Penjaga toko itu sampai 
bosan menyapa dan memujikan dagangannya. Ketika hampir aku putuskan untuk mencari ke tempat 
lain, suara seorang perempuan menyapa. 

”Mencari bunga untuk apa Pak?” 

Aku menoleh dan menemukan seorang gadis cantik 
usianya di bawah 25 tahun. Atau mungkin kurang dari 
itu. 

”Bunga untuk ulang tahun.” 

”Yang harganya sekitar berapa Pak?” 

”Harga tak jadi soal.” 

”Bagaimana kalau ini?” 

Ia memberi isyarat supaya aku mengikuti. 

”Itu?” 

Ia menunjuk ke sebuah rangkain bunga tulip dan 
mawar berwarna pastel. Bunga yang sudah beberapa 
kali aku lewati dan sama sekali tak menarik 
perhatianku. 

”Itu saya sendiri yang merangkainya.” 

Mendadak bunga yang semula tak aku lihat sebelah 
mata itu berubah. Tolol kalau aku tidak 
menyambarnya. Langsung aku mengangguk. 

”Ya, ini yang aku cari.’ 

Dia mengangguk senang. 

”Mau diantar atau dibawa sendiri?” 

”Bawa sendiri saja. Tapi berapa duit?” 

Ia kelihatan bimbang. 

”Berapa duit.” 

”Maaf sebenarnya ini tak dijual. Tapi kalau Bapak mau 
nanti saya bikinkan lagi.” 

”Tidak, aku mau ini.” 

”Bagaimana kalau itu?” 

Ia menunjuk ke bunga lain. 

”Tidak. Ini!” 

”Tapi itu tak dijual.” 

”Kenapa?” 

”Karena dibuat bukan untuk dijual.” 

Aku ketawa. 

”Sudah, katakan saja berapa duit? Satu juta?” 
kataku bercanda. 
”Dua.” 

”Dua apa?” 

”Dua juta.” 
Aku melongo. Mana mungkin ada bunga berharga dua 
juta. Dan bunga itu jadi semakin indah. Aku mulai 
penasaran. 

”Jadi, benar-benar tidak dijual?” 

”Tidak.” 

Aku pandangi dia. Dan dia tersenyum seperti menang. 
Lalu menunjuk lagi bunga yang lain. 

”Bagaimana kalau itu?” 

Aku sama sekali tak menoleh. Aku keluarkan 
dompetku, lalu memeriksa isinya. Kukeluarkan semua. 
Hanya 900 ratus ribu. Jauh dari harga. Tapi aku taruh di 
atas meja berikut uang receh logam. Dia tercengang. 

”Bapak mau beli?” 

”Ya. Tapi aku hanya punya 900 ribu. Itu juga berarti 
aku harus jalan kaki pulang. Aku tidak mengerti bunga. 
Tapi aku menghargai perasaanmu yang merangkainya. 
Aku merasakan kelembutannya, tapi juga ketegasan 
dan kegairahan dalam karyamu itu. Aku mau beli 
bunga kamu yang tak dijual ini.” 

Dia berpikir. Setelah itu menyerah. 

”Ya, sudah, Bapak ambil saja. Bapak perlu duit berapa 
untuk pulang?” 

Aku terpesona tak percaya. 

”Bapak perlu berapa duit untuk ongkos pulang?” 

”Duapuluh ribu cukup.” 

”Rumah Bapak di mana?” 

”Cirendeu.” 

”Cirendeu kan jauh?” 

”Memang, tapi dilewati angkot.” 

”Bapak mau naik angkot bawa bunga yang aku 
rangkai?” 

”Habis, naik apa lagi?” 

”Tapi angkot?” 

”Apa salahnya. Bunga yang sebagus itu tidak akan 
berubah meskipun naik gerobak.” 

”Bukan begitu.” 

”O, kamu tersinggung bunga kamu dibawa angkot? 
Kalau begitu aku jalan kaki saja.” 

”Bapak mau jalan kaki bawa bunga?” 

”Ya, hitung-hitung olahraga.” 

Dia menatap tajam. 

”Bapak bisa ditabrak motor. Bapak ambil saja uang 
Bapak 150 untuk ongkos taksi.” 

Aku tercengang. 

”Kurang?” 

“Tidak. Itu bukan hanya cukup untuk naik Blue Bird, 
tapi juga cukup untuk makan double BB di BK PIM.” 

Dia tersenyum. Cantik sekali. 

”Silakan. Bapak perlu kartu ucapan selamat di 
bunga?” 

”Tidak.” 

Dia berpikir. 

”Jadi, bukan untuk diberikan kepada seseorang? 
Bunga ini saya rangkai untuk diberikan pada 
seseorang.” 

”Memang. Untuk diberikan pada seseorang.” 

”Yang dicintai mestinya.” 

”Ya. Jelas!” 

”Sebaiknya, Bapak tambahkan ucapannya. Bunga ini 
saya rangkai untuk diantar dengan ucapan. Diambil dari 
puisi siapa begitu yang terkenal. Misalnya Kahlil 
Gibran.” 

Aku terpesona lalu mengangguk. 

”Setuju. Tapi tolong dicarikan puisinya dan sekaligus 
dituliskan.” 

Ia cepat ke belakang mejanya mengambil kartu. 

”Sebaiknya Bapak saja yang menulis.” 

”Tidak. Kamu.” 

Ia tersenyum lagi mungkin merasa lucu. Lalu 
menyodorkan sebuah buku kumpulan sajak. Aku 
menolak. 

”Kamu saja yang memilih.” 

”Tapi, saya tidak tahu yang mana untuk siapa 
dulu.” 

”Pokoknya yang bagus. Yang positip.” 

”Cinta, persahabatan, atau sayang?” 

”Semuanya.” 

Ia tertawa. Lalu menulis. Tampaknya ia sudah hapal di 
luar kepala isi buku itu. Ketika ia menunjukkan 
tulisannya, aku terhenyak. Itu bukan sajak Gibran, tapi 
kalimat yang ditarik dari sajak Di Beranda Itu Angin 
Tak Berembus Lagi karya Goenawan Mohamad: 

”Bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata.” 

Aku terharu. Pantas Nelson Mandela mengaku 
mendapat inspirasi untuk bertahan selama 26 tahun di 
penjara Robben karena puisi. 

”Bagus?” 

Aku tiba-tiba tak sanggup menahan haru. Air mataku 
menetes dengan sangat memalukan. Cepat-cepat 
kuhapus. 

”Saya juga sering menangis membacanya, Pak.” 

”Ya?” 

” Ya. Tapi sebaiknya Bapak tandatangani sekarang, 
nanti lupa.” 

Aku menggeleng. Aku kembalikan kartu itu 
kepadanya. 

”Kamu saja yang tanda tangan.” 

”Kenapa saya?” 

”Kan kamu yang tadi menulis.” 

”Tapi itu untuk Bapak.” 

”Ya memang.” Ia bingung. 

”Kamu tidak mau menandatangani apa yang sudah 
kamu tulis?” 

”Tapi, saya menulis itu untuk Bapak.” 

”Makanya!” Ia kembali bingung. 

”Kamu tak mau mengucapkan selamat ulang tahun 
buat aku?” Dia bengong. 

”Aku memang tak pantas diberi ucapan selamat.” 

”Jadi, bunga ini untuk Bapak?” 

”Ya.” 

”Bapak membelinya untuk Bapak sendiri?” 

”Ya. Apa salahnya?” 

”Bapak yang ulang tahun?” 

”Ya.” 
Dia menatapku tak percaya. 

”Kenapa?” 

”Mestinya mereka yang yang mengirimkan bunga 
untuk Bapak.” 

”Mereka siapa?” 

”Ya, keluarga Bapak. Teman-teman Bapak. Anak 
Bapak, istri Bapak, atau pacar Bapak…” 

”Mereka terlalu sibuk.” 

”Mengucapkan selamat tidak pernah mengganggu 
kesibukan.” 

”Tapi itu kenyataannya. Jadi aku beli bunga untuk 
diriku sendiri dan ucapkan selamat untuk diriku sendiri 
karena kau juga tidak mau!” 

Aku ambil uangku dan letakkan lebih dekat ke 
jangkauannya. Lalu aku ambil bunga itu. 

”Terima kasih. Baru sekali ini aku ketemu bunga yang 
harganya 900 ribu.” 

Aku tersenyum untuk meyakinkan dia bahwa aku tak 
marah. Percakapan kami tadi terlalu indah. Bunga itu 
hanya bonusnya. Aku sudah mendapat hadiah ulang 
tahun yang lain dari yang lain. Tapi sebelum aku keluar pintu toko, dia menyusul. 

”Ini uang Bapak,” 

katanya memasukkan uang ke 
kantung bajuku sambil meraih bunga dari tanganku, 

”Bapak simpan saja.” 

”Kenapa? Kan sudah aku beli?” 

Aku raih bunga itu lagi, tapi dia mengelak. 

”Tidak perlu dibeli. Ini hadiah dariku untuk Bapak. 
Dan aku mau ngantar Bapak pulang. Tunjukkan saja 
jalannya. 
Itu mobilku. 

” Dia menunjuk ke sebuah Ferrari merah yang seperti 
nyengir di depan toko. 

”Aku pemilik toko ini.” 

Aku terkejut. Sejak itulah hidupku berubah. 


(sumber:cerpenkompas.wordpress.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar